Pengaruh Dominasi BEM dan BPM terhadap Habitus Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Ini merupakan makalah Teori dan Metode Kajian Budaya yang dikerjakan berkelompok. Makalah ini telah mendapatkan nilai 80.

1. Fadhlan Hafiyyan 180410120048

2. Ronald Taufik Hidayat 180410120053

3. Aditya Noor Oktaviano 180410120044

4. Irfan Reza Hardiansyah 180410120059

5. Luqmanul Hakim 180410120077

 

Latar belakang

Makalah ini akan membahas bagaimana mekanisme “kekuasaan simbolik” membuat terbentuknya sebuah siklus ketergantungan kekuasaan didalam sebuah lingkungan kampus . Sasaran atau objek penelitian dari makalah ini ialah mahasiswa dalam Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran. Kami akan mencoba untuk menelaah dan menyimpulkan tentang tiga hal. Pertama, keberadaan kekuasaan simbolik dalam lingkungan sivitas akademika Fakultas Ilmu Budaya. Kedua, tujuan utama dari keberadaan kekuasaan simbolik tersebut. Ketiga, bagaimana pandangan dari mahasiswa yang ada.

Teori yang dipergunakan dalam makalah ini ialah teori Bourdieu mengenai kekuasaan simbolik, atau lebih dikenal dengan dominansi simbolik.  Dominansi simbolik disini berkenaan dengan yang menjadi stereotip dan pemahaman umum mahasiswa mengenai badan-badan kemahasiswaan yaitu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Kedua badan tersebut sudah lama ada didalam berbagai universitas – universitas di Indonesia, termasuk di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Kedua badan tersebut juga memiliki peran yang penting dalam menjaga stabilitas kampus, menyebarkan informasi baik akademik, kemahasiswaan, dan bahkan pengenalan terhadap dunia kerja dan masyarakat. Namun, seiring waktu ditemukan bahwa adanya siklus ketergantungan kekuasaan antara kedua badan tersebut dengan mahasiswa. Pada makalah ini  akan ditelaah, dianalisa, dan diberikan kesimpulan bagaimana siklus tersebut disadari atau tidak oleh mahasiswa dan bagaimana kedua badan ini mempengaruhi habitus mahasiswa yang ada dalam Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

 

Kajian Teori

Kekuasaan, ialah sebuah hal yang menjadi komponen penting bagi seorang individu dan kelompok untuk mendominasi individu –individu lain dan kelompok – kelompok lain. Pada awalnya penilaian atas “kekuasaan” menurut masyarakat umum ialah bagaimana adanya sebuah kepenguasaan atas individu ataupun kelompok dengan berdasarkan “kekerasan ialah kunci untuk menguasai”. Kekuasaan diidentikkan dengan kekerasan secara fisik oleh penguasa terhadap pengikut. Kekuasaan dipandang sebagai sebuah pengukuran atas seberapa keras (secara fisik dan nyata) penguasa menguasai apa yang dikuasainya. Namun, seiring dengan perkembangan teori-teori sosial yang berkenaan dengan “kekuasaan”, definisi, praktik, dan identifikasi kekuasaan mulai berubah dari yang aktif dengan kekerasan menjadi pasif dengan dominasi simbolis. Kekuasaan yang demikian ialah kekuasaan yang sangat berpotensi menyebabkan sebuah pemikiran-pemikiran yang “sengaja” dipersempit, menjadikan orang yang terimbas oleh bentuk kekuasaan demikian akan menjadi bingung dan mempertanyakan tentang status “kebebasan”-nya. Apakah sebenarnya saya masih dikuasai? Mengapa saya harus menentang? Hal yang ditunjukkan kepada saya tidak menjadi masalah besar bagi saya. Saya masih dapat hal yang bermanfaat dari yang diwajibkan kepada saya.

Hal-hal demikian, menurut Bourdieu ialah pandangan akhir dari hasil kekuasaan dalam dominasi simbolis. Apabila mencermati definisi tentang kekuasaan sendiri menurut Bourdieu, maka akan diperoleh demikian, “Bourdieu memandang kekuasaan dalam konteks teori masyarakat, dimana ia melihat kekuasaan sebagai budaya dan simbolis dibuat, dan terus-menerus kembali dilegitimasi melalui interaksi agen dan struktur. Cara utama ini terjadi adalah melalui apa yang disebutnya ‘habitus‘ atau norma disosialisasikan atau kecenderungan bahwa perilaku panduan dan berpikir” (Bourdieu dalam Haryatmoko, 2010: 13).   Hal ini berarti kekuasaan yang ada atas hal-hal tertentu ialah sebuah proses yang sangat panjang dan menyangkut subjek dan objek dari kekuasaan tersebut. Bourdieu kemudian berpendapat bahwa didalam kekuasaan tersebut terdapat dominasi simbolis.

Pengertian dominasi simbolis ialah  penindasan dengan menggunakan simbol-simbol. Penindasan ini tidak dirasakan sebagai penindasan, tetapi sebagai sesuatu yang secara normal perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri. Dalam dominasi simbolis, terlihat cara bagaimana dominasi itu dipaksakan dan diderita sebagai kepatuhan, efek dari kekerasan simbolis, kekerasan halus, tak terasakan, tak dapat dilihat bahkan oleh korbannya sendiri (Haryatmoko, 2010: 12-13).

Berangkat dari teori ini, Kekuasaan seperti yang dicetuskan oleh Bourdieu (yang dikutip oleh Haryatmoko) ialah hal yang mengejutkan, yaitu adanya keinginan dari yang dikuasai untuk menyetujui penguasaan tersebut (Haryatmoko, 2010: 12). Oleh karena itu, kekuasaan di jaman sekarang tidak terlihat seperti kekuasaan pada jaman dahulu. secara fisik tidak ditemukan kekerasan, pemaksaan, dan penindasan. Walaupun begitu, sebenarnya kekuasaan itu ada dimana-mana, tapi tidak terlihat secara fisik sedangkan, menjadi sebuah “simbol” yang menurut Bordieu, ialah “kekuasaan simbolik” (Haryatmoko, 2010: 13). contohnya dalam bentuk negara Indonesia, kekuasaan dibangun dengan trias politika, yaitu eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Kekuasaan dibagi menjadi tiga agar terjadi keseimbangan dan pengawasan satu sama lain. Dalam hal ini, negara berperan sebagai bagian dalam kekuasaan dan masyarakat menjadi sasaran kekuasaan. Jika kita berpindah pada contoh yang lebih dekat dalam kehidupan sehari-hari, contohnya dalam kehidupan kampus, prinsip kekuasaan ini lebih mudah untuk dipahami.  Seperti negara, kampus juga memiliki hirarki kekuasaan. Ada lembaga eksekutif dan legislatif.

Lembaga eksekutif dalam lingkungan kampus yang kita tempati, universitas padjadjaran, Fakultas ilmu budaya adalah BEM (badan eksekutif mahasiswa). Sedangkan, badan legislatif-nya adalah BPM (badan perwakilan mahasiswa). Masalah yang dapat diangkat dalam makalah ini ialah bagaimana pengaruh kekuasaan dua lembaga ini dapat mempengaruhi kebiasaan mahasiswa di kampus.

BEM sebagai lembaga eksekutif lebih sering membuat acara atau event di kampus daripada lembaga yang lainnya. Sebenarnya, itu memang terjadi karena BEM adalah lembaga yang tugas utamanya mengeksekusi. Oleh karena itu, bentuk kekuasaan BEM bisa lebih mudah terlihat di lingkungan kampus. Mahasiswa bisa melihat informasi acaranya di spanduk dan pamlet yang disebar dimana-mana sehingga logo BEM yang ada di spanduk dan pamlet itu juga banyak terlihat. Hal ini membuat betapa eksisnya BEM di kampus ini.

Logo BEM bila kita lihat dari sudut pandang yang berbeda bisa berupa sebuah tanda dalam melanggengkan kekuasaannya. Orang-orang yang sering melihat poster dan pamflet itu akan terdominasi untuk ikut serta dalam acara tersebut atau paling tidak percaya bahwa BEM adalah lembaga yang aktif. Logo ini bisa kita simpulkan sebagai kekuasaan simbolik yang hendak ditunjukkan oleh BEM untuk menunjukan dominasinya. Tidak hanya di media cetak, BEM juga turut melancarkan dominasinya di media sosial. Di Twitter saja contohnya, BEM sering melancarkan tweet-nya untuk menginformasikan acara apa yang akan diselenggarakan, informasi masa study, dan beasiswa. Nah, ketika beranjak ke media sosial kekuasaan simbolik yang BEM miliki tidak hanya logo saja, tetapi juga tweet itu sendiri.

Informasi kampus via Twitter ini sudah BEM lakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Awalnya, sebelum menggunakan Twitter, mahasiswa kebanyakan pergi ke kampus untuk menanyakan informasi tersebut. Akan tetapi, semuanya berubah ketika BEM mulai memberikan informasi tersebut via Twitter. Lambat laun, semakin sedikit mahasiswa yang mencari informasi langsung ke kampus karena mereka lebih senang melihat di Twitter saja.

Di satu sisi, mahasiswa sebenarnya tertolong dengan adanya layanan tersebut. Mereka tidak perlu jauh-jauh pergi ke kampus hanya untuk menanyakan hal itu. Akan lebih praktis untuk langsung bertanya saja kepada staff BEM yang menjadi admin tweeter tersebut. Akan tetapi, di sisi yang lain, hal ini bisa berdampak buruk. Mahasiswa akan cenderung membutuhkan layanan yang diberikan oleh BEM ini.

Jika BEM hilang atau memberhentikan layanan ini, maka mahasiswa akan kebingungan. Dari sudut pandang ini, kita bisa melihat bahwa mahasiswa mempunyai ketergantungan terhadap BEM dan BEM, dalam hal ini, menjadi mudah untuk mendominasi mereka dan mahasiswa, sepertinya, tidak keberatan atau malah tidak sadar telah didominasi oleh BEM. Kebutuhan akan twitter ini dalam pemikiran Bourdieu adalah habitus yang:

[M]erupakan konsep yang mau menjelaskan mengapa [mahasiswa] bertindak dalam masyarakat [FIB] sesuai dengan skema yang sudah ada sebelumnya, dan cenderung mereproduksi hubungan-hubungan sosial yang ditandai oleh dominasi kelompok tertentu terhadap yang lain (sistem disposisi yang berlangsung lama dan dapat diwariskan pada setiap individu merupakan vektor yang menyatukan dan melanggengkan yang tidak disadari)” (Bourdieu dalam Haryatmoko, 2013: 22).

Berbeda dengan BEM sebagai lembaga eksekutif, BPM merupakan lembaga legislatif. Lembaga legislatif memiliki fungsi membuat undang-undang. Sebenarnya sampai saat ini, ada beberapa undang-undang yang telah BPM susun. Undang-undang tersebut telah mengatur kegiatan kemahasiswaan yang ada di FIB Unpad. Bila kita melihat dari sudut pandang Bordieu, undang-undang yang dibuat oleh BPM ini menjadi salah satu “kekuasaan simbolik” yang digunakan BPM untuk melanggengkan dominasinya. Bahkan BEM pun harus patuh kepada undang-undang yang BPM buat. Selain itu, keuangan BEM juga diawasi keluar masuknya oleh BPM. Hal ini, disatu sisi, menunjukan bahwa BPM mendominasi BEM.

Selain membuat undang-undang, BPM memiliki fungsi lainnya, yaitu advokasi mahasiswa. BPM, tidak jarang, membantu mahasiswa dalam mencari beasiswa, penangguhan kuliah, dan bahkan mengurus dana SAT yang tidak jadi dipergunakan oleh mahasiswa. Walaupun begitu, BEM juga memiliki department yang juga membantu hal-hal tersebut. Jika kita lihat dengan lebih seksama maka ada perlombaan dominasi yang hendak BEM dan BPM lakukan di FIB ini. Kedua badan tersebut saling berebut mencari dan mendapatkan kekuasaan. Dalam hal ini, kita bisa melihat bahwa Fakultas Ilmu Budaya telah menjadi “arena” yang menjadi “tempat pertarungan kekuatan [BEM dan BPM], tempat perjuangan untuk mempertahankan atau mengubah struktur hubungan-hubungan kekuasaan” (Bourdieu dalam Haryatmoko, 2010: 18).

Walaupun seharusnya secara teknis BPM yang lebih dominan, hasil survei kami mendapatkan hasil yang mengejutkan. Kebanyakan responden menganggap bahwa BEM yang lebih dominan daripada BPM. Hal ini tidak mustahil terjadi karena BEM telah menggeser kekuasaannya dengan “cara-cara yang dikembangkan oleh wacana [BEM] untuk menggapai, menembus, dan mengontrol [mahasiswa], bahkan sampai pada kenikmatan-kenikmatan yang paling intim dengan menggunakan metode menolak atau melarang, tetapi juga merangsang dan intensifikasi karena teknik-teknik kekuasaan itu memiliki banyak bentuk” (M. Foucault dalam Haryatmoko, 2010: 12).

 

Objek penelitian

Objek penelitian dari makalah ini adalah lima puluh orang mahasiswa dari berbagai jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran.

 

Metode

Metode penelitian yang kami gunakan dalam makalah ini adalah penelitian kuantitatif  berbasis survei kuisioner. Kami memberikan lima pertanyaan pilihan ganda kepada lima puluh orang responden. Jawaban mereka akan dianalisis utamanya untuk menentukan dominasi simbolik BEM dan BEM apakah mereka rasakan atau tidak. 

Analisis dan Pembahasan

Kami akan menelaah, menganalisa, dan menyimpulkan bagaimana BEM dan BPM memberikan dominansi simbolik atas mahasiswa, serta bagaimana pandangan mahasiswa terhadap keberadaan BEM dan BPM  melalui tabel-tabel hasil survei berikut:

Tangkapan layar penuh 24112014 63707.bmp Tangkapan layar penuh 24112014 63749.bmp

 

Pada Tabel 1 kita bisa melihat bahwa hampir  95% 50 orang responden mengenal BEM dan BPM. Hanya sekitar 1,5% yang hanya baik mengenal BEM dan tidak mengenal keduanya. Itu artinya hampir dari 50 orang responden ini mengetahui dan merasakan keberadaan kedua badan ini.

Pada Tabel 2 bisa kita lihat juga bahwa 99% dari 50 orang responden ini lebih merasakan bahwa BEM itu lebih dominan daripada BPM. Hal ini bisa terjadi karena BEM lebih terlihat aktif dalam membuat acara-acara kemahasiswaan. Di jalan-jalan menuju lingkungan kampus, lebih banyak ditemui spanduk-spanduk yang berlogo BEM daripada BPM. Spanduk dan logo tersebut secara tidak langsung dipasang untuk menunjukan dominasi BEM itu sendiri seperti yang Bourdieu kemukakan sebagai “kekuasaan simbolik.” Hal ini, utamanya, membuat para responden cenderung menilai BEM lebih dominan daripada BPM.

Pada Tabel 3 bisa kita lihat bahwa 84% responden cenderung tidak keberatan dengan adanya BEM dan BPM. Sekitar 6% responden menyatakan keberatan dan sisanya 10% responden menyatakan tidak tahu. Bisa kita lihat bahwa mayoritas responden merasa kehadiran BEM dan BPM tidak mengganggu keberadaan mereka. Bahkan bisa lihat di tabel 3, bahwa mayortias responden menganggap BEM dan BPM memiliki peran penting di kampus. Sekitar 54% responden menyatakan bahwa BEM dan BPM memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan sosial dan organisasi kampus, sedangkan 26% responden menyatakan bahwa kedua badan tersebut memiliki peran penting juga dalam kehidupan kuliah mereka. Hanya 20% responden yang menganggap BEM dan BPM tidak berpengaruh sama sekali.

Analisa gabungan terhadap tabel 2 dan tabel 3 atas hubungan keberadaan BEM dan BPM, terutama keberadaan BEM terhadap habitus mahasiswa, menunjukkan bahwa mahasiswa memerlukan BEM sebagai sarana bagi mahasiswa untuk meningkatkan kapital sosial mahasiswa melalui kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan BEM. Pada tabel 4 bisa kita lihat ternyata memang mahasiswa FIB Unpad sudah mulai merasakan kehadiran BEM dan BPM. Ketika dimunculkan pertanyaan, apa pengaruhnya jika kedua badan tersebut dihilangkan, mayoritas dari responden menyatakan bahwa hilangnya BEM dan BPM akan berdampak dalam kehidupan sosial dan komunikasi di kampus. Sekitar 50% responden menyatakan dampaknya akan signifikan, 40% responden menyatakan dampaknya sedikit, dan sisanya sekitar 10% responden menyatakan tidak berdampak sama sekali. Hal ini telah menunjukan bahwa mayoritas responden  “membutuhkan” dominasi kedua badan tersebut dalam kehidupan kampus mereka.

Kesimpulan

Survei ini telah menunjukan bahwa memang “kekuasaan simbolik” yang Bourdieu katakan memang ada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Unpad. Baik BEM dan BPM telah berhasil melancarkan dominasinya terhadap pada responden. Hal ini lambat laun membuat para responden menjadi tidak keberatan karena BEM dan BPM sudah masuk dalam habitus mereka sehari-hari. Dalam artian, habitus mahasiswa yang berupa bentuk ketergantungan-ketergantungan mahasiswa tersebut kepada BEM dan BPM. Kedua badan tersebut menjadi dibutuhkan baik sadar ataupun tidak sadar oleh mahasiswa itu sendiri. Dilihat dari hasil survei yang mengemukakan bahwa BEM dan BPM akan meningkatkan kapital sosial mahasiswa, habitus mahasiswa atas kebutuhan tersebut membentuk persetujuan mereka atas dominansi simbolik  BEM dan BPM karena walaupun disatu sisi mereka didominasi, tetapi disisi lain mereka juga disatukan di dalam habitut yang sama.

 

Daftar Pustaka

Haryatmoko. 2010. “Gagasan- Gagasan Pembuka Sehubung Dominasi” (1-38) dalam Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi. Gramedia. Jakarta.

Haryatmoko. 2013. “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa” dalam Basis Nomor 11-12, 2003.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Teori dan Metode Kajian Budaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s