Kehadiran Cermin Fantastic dalam Tiga Karya Ray Bradbury

Saya sebenarnya juga masih bingung dengan topik yang akan saya bahas dalam skripsi saya. Hal ini terjadi saya membahas objek yang sama pada saat kelas Critical Theory ataupun Selected Topic, tetapi dua mata kuliah tersebut memberikan dua pandangan yang sedikit berbeda pada tiga karya yang saya bahas. Walaupun begitu, ijinkanlah saya utarakan semua kebingungan yang saya dapatkan pada saat semester lalu dengan tujuan semoga teman-teman yang ikut membaca tulisan ini minimal bisa ikut bingung sehingga kita bersama-sama dapat membahas kebingungan tersebut.

Karya yang saya bahas adalah satu novel dan dua cerpen karya Ray Bradbury. Novel tesebut berjudul Fahreinheit 451 sedangkan dua cerpen lainnya adalah S is for Space dan R is for Rocket. Pada ketiga karya tersebut saya banyak menemukan cermin-cermin fantastic. Cermin ini memiliki banyak fungsi yang ternyata tidak hanya digunakan oleh karakter utama dalam cerita, tetapi juga digunakan novel dan mungkin juga pembaca untuk ‘bercermin’.

Pada kelas Selected Topic, saya mendapatkan tiga artikel jurnal yang menolong saya menganalisana salah satu kerya yang saya bahas, Fahrenheit 451. Pada novel ini, narrator orang ketiga bercerita tentang seorang ‘fireman’ bernama Montag yang bertugas membakar buku apa saja yang dia temukan. Setting dari novel ini tidaklah jelas, tetapi kemungkinan besar berada di masa depan. Jurnal artikel pertama adalah karya McGiveron berjudul To build a mirror factory”: The mirror and self-examination in Ray Bradbury’s Fahrenheit 451. McGiveron beragumen bahwa ada banyak cermin yang digunakan oleh novel Fahrenheit 451 untuk menekankan kebutuhan dari Guy Montag untuk melihat dirinya sendiri. (1998: 64) Awalnya, saya kurang begitu paham dengan konsep cermin yang McGiveron berikan. Tentunya, ketika seseorang melihat cermin, maka dia bisa bisa melihat pantulan dirinya sendiri. Untungnya, pada kelas Critical Theory saya membaca Lacan sehingga saya yakin maksud cermin yang McGiveron tawarkan adalah sama dengan cermin Lacan. Konsep cermin ini juga mirip seperti cermin yang ditawarkan oleh Jackson karena kebanyakan cermin yang ada di dalam novel adalah cermin methaphor yang awalnya biasa saja tetapi di rubah menjadi sesuatu yang tidak biasa. (1981: 19) Hal tidak biasa inilah yang membuat Montag dapat mengidentifikasi kesalahan dalam dirinya. Saya juga membayangkan setiap cermin yang ditemukan bukanlah cermin yang utuh melainkan serpihan cermin-cermin pecah yang perlu disusun dan diperbaiki. Bagaikan puzzle, cermin-cermin ini adalah teka-teki sulit yang tentunya sangat perlu untuk dipecahkan. Cermin- cermin ini bisa berbentuk karakter maupun benda. Oleh karena itu, marilah saya lanjutkan perjalanan kita dalam menyusun pecahan-pecahan cermin ini.

Walaupun banyak cermin methapor, cermin pertama yang digunakan oleh novel untuk menyadarkan Montag adalah benar-benar cermin asli yang terpasang di stasiun pemadam kebakaran. Saat itu, Montag telah selesai mengerjakan pekerjaanya, membakar buku. Seperti yang diutarakan narator, “He might wink at himself” (Bradbury, 1953: 4) sebagai seorang yang anti ilmu pengetahuan, tetapi dia tidak bisa. Pantulan wajah Montag yang hitam kelam setelah bakar-bakaran di cermin itu tidak bisa menunjukan dirinya yang sebenarnya. Jika memang bisa, maka Montag sendirilah yang tidak sadar. Hal ini terjadi karena kondisi, lingkungan, dan bahkan cermin itu sendiri, sebagaimana yang McGIveron katakan, sudah terlalu lazim baginya. (1998: 64). Saya bisa katakan bahwa daripada menjadi cermin yang memantulkan diri, cermin itu malah mereflek saja (tidak dipikirkan). Oleh karena itu, cermin pertama ini bisa dikatakan sudah gagal memproyeksikan diri Montag yang sebenarnya.

Cermin kedua adalah Clarrise. Clarrise adalah gadis berumur tujuh tahun dan tetangga Montag. Montag bertemu Clarrise di jalan ketika dia pulang ke rumah. Clarrise memiliki peran yang sangat besar disini. Ketika dia berbicara dengan Clarrise, gadis kecil itu memantulkan apa yang Montag katakan dengan sesuatu yang Montag belum pernah katakan sebelumnya. Pada saat itu, saya menemukan proses pemantulan. Pertama, Montag mendeskripsikan Clarrise sebagai cermin, 

How like a mirror . . . her face. Impossible, for how many people did you know who refracted your own light to you? . . . How rarely did other people’s faces take of you and throw back to you your own expression, your own innermost trembling thought? (Bradbury, 1953: 11)

Setelah pecahan cermin kedua ini terbentuk, Montag mulai berkaca dengan menggunakan cermin Clarrise,

He saw himself in her eyes, suspended in two shining drops of bright water, himself dark and tiny, in fine detail, the lines about his mouth, everything there, as if her eyes were two miraculous bits of violet amber that might capture and hold him intact. (Bradbury, 1953: 7)

Selanjutnya, saya bisa menemukan apa yang Montag lihat dalam dirinya. Montag melihat Clarrise terang (shining) seperti air (water) sedangkan Montag melihat dirinya gelap (dark) dan kecil (tiny). Wajah Clarisse terang seperti salju yang diterangi bulan. Montag sedikit mengerti wajah hitam aslinya sekarang dan tentunya wajah ini merujuk pada bayangan dirinya pada cermin pertama yang hitam kelam setelah membakar buku. Oleh karena itu, cermin pertama sepertinya tidak terlalu gagal, hanya saja Montag sedikit telat menyadarinya.

Bagaimanapun, wajah Montag yang hitam mirip seperti topeng. Topeng yang dia pakai mencegah dia untuk melihat kebahagiaan. “He [is] not happy” karena “[h]e wore his happiness like a mask.” Untungnya, cermin Clarrise sangatlah terang sehingga saya membayangkan sinar itu dapat menembus topeng yang selama ini Montag pakai. Akhirnya, Montag dapat melihat dunia seperti aslinya, dunia yang seperti narrator katakan lebih berwarna, “[o]nly an hour, but the world had melted down and sprung up in new and colorless form.” Lebih lagi, Montag juga menyadari bahwa rumah Clarisse “was so brightly lit this late at night while all the other houses were kept to themselves in darkness.” Karena hanya rumah Clarrise yang terang, Montag bisa melihat kalau rumah yang lainnya gelap, dan tentunya semakin terang rumah Clarrise maka semakin gelap rumah yang lainnya.

Jika saya hubungkan topeng, hitam, dan kegelapan itu dengan dosa, maka dosa Montag sebagian sudah dibersihkan oleh cahaya yang diberikan Clarrise. Proses ini mirip dengan proses pemurnian diri (purification). Saya sebenarnya sedikit bermasalah dengan subjek yang melakukan pemurnian ini. Apakah memang Clarrise yang memurnikan Montag ataukah Montag sendiri yang mencoba memurnikan dirinya dengan menggunakan cahaya Clarrise. 

Cermin-cermin itu tidak hanya berfungsi bagi Montag untuk melihat dirinya sendiri, tetapi novel menggunakan cermin itu untuk membuat Montag berada di dua kondisi yang berbeda, nyata dan tidak nyata. Todorov dalam bukunya The Fantastic, menyebut keadaan ini sebagai Fantastic. Pada saat berada dalam kondisi itu, Montag terjebak dalam keraguan tentang dirinya.  Dia mulai bingung terhadap dirinya sendiri, “I don’t know anything any more.” (Bradbury, 1953: 18) Dia mulai berfikir tentang hidupnya dan membagi dirinya kedalam dua bagian, self dan the other. 

“[Montag] felt his body divide itself into a hotness and a coldness, a softness and a hardness, a trembling and a not trembling, the two halves grinding one upon the other.” (Bradbury, 1953: 24)

Sayangnya, Montag tidak bisa memilih salah satu dari dua bagian itu, “[i]t doesn’t like me.” (Bradbury, 1953: 26). Ketika Montag tidak bisa menjelaskan apa yang dia lihat, maka orang lain lah yang menjelaskan hal itu. Hal ini mirip seperti proses pembelajaran pada anak yang Lacan katakan. Clarrise membantu Montag untuk mendeskripsikan dirinya dengan membandingkan Montag dengan the other. 

You’re not like the others. I’ve seen a few; I know. When I talk, you look at me. When I said something about the moon, you looked at the moon, last night. The others would never do that. The others would walk off and leave me talking. Or threaten me. No one has time any more for anyone else. You’re one of the few who put up with me. That’s why I think it’s so strange you’re a fireman, it just doesn’t seem right for you, somehow.” (Bradbury, 1953: 23-24)

Pada saat ini, Clarrise berhasil menjadi cermin utama yang memantulkan diri Montag. Jika saya identifikasi lebih teliti lagi, cermin Clarrise dengan sengaja membedakan Montag dengan ‘fireman.’ Hal ini terjadi karena Montag dulu menganggap dirinya sebagai ‘fireman.’ Metode yang dilakukan novel untuk menyadarkan Montag ini saya pikir sangat efektif, dengan membuat dirinya keluar dari dirinya yang dulu atau menjadi asing dengan dunianya. Apakah ini bisa desebut dengan perasaan unhomely? Saya bingung.

Zipes berkata bahwa Clarrise telah membuat Montag lebih sensitif. (1984: 6) Hal ini menyebabkan Montag selalu memikirkan apa yang dia lihat. Sayangnya, kemampun ini membuat Montag tidak bisa mengidentifikasi istrinya sendiri yang seharusnya menjadi orang yang paling dia kenal. Banyak hal-hal yang Mildred lakukan tidak Montag mengerti karena Mildred adalah cermin selanjutnya. Mildred memantulkan kehampaan dan kepalsuan dari masyarakat. Walaupun begitu, Montag tidak sadar akan hal tersebut. Dia hanya bisa merasakan saja bahwa Mildred adalah seorang wanita hampa yang sangat mengganggu. (Bradbury, 1953: 44, 55). 

Cermin lainnya adalah Faber dan Captain Betty. Faber adalah seorang Professor sedangkan Betty adalah Kaptennya Montag. Mereka berdua adalah sedikit dari orang yang pernah membaca buku. Oleh karena itu, mereka berbeda dengan cermin yang lainnya. Mereka tidak hanya memantulkan, tetapi juga memperjelas kenyataan yang Montag ingin ketahui. Saya jadi membayangkan cermin ajaib yang bisa berbicara. Walaupun begitu, Faber dan Betty bagaikan dua kutub polar yang bertolak belakang. Faber lebih cenderung memantulkan sisi positif dari buku, sedangkan Betty memantulkan sebaliknya. Akibatnya, Montag kembali ke keadaan Fantastic yang membuat dia menjadi ragu untuk memilih salah satu dari kedua wacana tersebut.

Cermin lainnya yang saya temukan adalah benda tidak hidup yang Montag temukan, seperti mechanical hound, buku yang dia bakar, sungai, dan api unggun.Saya sebenarnya ingin melanjutkan lebih lanjut perihal cermin-cermin lainnya, tetapi berhubung tulisan ini masih outline, saya hanya dapat membahas cermin yang diatas saja. Cermin lainnya akan saya bahas di tulisan saya selanjutnya sekaligus akan melengkapi cermin sebelumnya.

Saya sebenarnya menjadi penasaran. Ketika pecahan-pecahan cermin ini digabungkan tentu saja akan menjadi suatu cermin yang besar dan utuh. Saya tentu membayangkan bagaimana bentuknya, apakah itu cermin datar, cekung, atau cembung. Sayangnya, cermin besar ini mungkin tidak akan memiliki bentuk yang sesuai dengan cermin pada umumnya karena setiap pecahan memilki jenis cermin yang berbeda. Bagaimanapun, hal yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dipantulkan oleh cermin besar ini ini. Apakah ada hubungannya dengan keadaan pada saat novel ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1950s di Amerika. Apakah kejadian-kejadian yang ada di dalam novel ini merepresentasikan kejadian di Amerika pada saat ini? Wacana apa yang menyebabkan novel memantulkan hal itu ke dalam narasi? Banyak pertanyaan yang membuat saya bingung dan tentunya menjadi awal yang baik bagi penelitian saya. Sayangnya, ijinkan saya untuk menulis kebingungan lain tersebut pada tulisan saya selanjutnya.

 

Work Cited:

Bradbury, R. (1953). Fahrenheit 451. New York,: Ballantine Books.

Jackson, R. (1981). Fantasy : the literature of subversion. London: Methuen.

Lacan, Jacques. (1977) The Mirror-Stage as Formative of the I as Revealed in Psychoanalytic

McGiveron, R. O. (1998). “To build a mirror factory”: The mirror and self-examination in Ray Bradbury’s Fahrenheit 451. Critique, 39(3), 282-287.

Todorov, T. (1973). The fantastic; a structural approach to a literary genre [by] Tzvetan Todorov. Translated from the French by Richard Howard: Cleveland, Press of Case Western Reserve University.

Zipes, J. (1983). Mass Degradation of Humanity and Massive Contradictions in

Bradbury’s Vision of America in Fahrenheit 451,” from No Place Else: Explorations

in Utopian and Dystopian Fiction, pp. 182–198. (New ed.). Southern Illinois University.: the Board of Trustees.

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Seminar On Literature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s