Tragedy Kolam Renang

Aku beranjak dari kursi. Ada seseorang yang memanggil. Ah, padahal sedang asik-asiknya aku duduk di depan laptop, memainkan game kesukaanku. Butuh waktu lima menit untuk menyeru panggilan itu. Bukan karena budek atau tak acuh padanya, aku terlalu asik menggerakkan tanganku di keyboard dan mouse sehingga aku tidak sadar kalau ada seseorang di depan pintu.

Aku memutar gagang pintu. Bentuknya bulan, berwarna perak, dan ada tombol pengunci di tengahnya. Aku ingat dulu. Pintu toilet di rumahku punya pintu semacam ini. Kami sekeluarga tidak pernah menggunakan tombol di tengah gagang itu. Bukannya tidak tahu akan fungsinya, tetapi kami terlalu yakin tidak ada satu pun orang yang masuk ke toilet tanpa ketuk pintu dulu. Nah, pintu terbuka. Ada seseorang berdiri di depan pintu. Dia berdiri membelakangiku dan bersender pada dinding lorong. Mungkin dia kesal karena terlalu lama menunggu di depan pintu. Dia mengenakan baju oblong warna merah dan celana jeans pendek yang sebenernya dulunya panjang. Aku menghampirinya, ikut serta memandang ke bawah, mencari tau apa yang sedang dilihatnya atau mungkin yang dipikirkannya.

“Renang yok!”

“Aduh malas, ji.”

“Ya elah, mumpung di Unhas nih. Di kampus kita mana ada kolam renang.”

“Siapa aja yang mau renang memangnya, Dan?”

“Tuh ada Elsa, Nurin, sama Maya ikut juga. Ayuklah, Yan. Kita renang rame-rame.””

“Bentar atuh ya.”

Aku bergegas masuk ke dalam kamar mencoba mematikan laptop. Sebenarnya diriku dalam game sedang melakukan sebuah quest ekpedisi beserta pemain-pemain lainnya yang entah online dimana. Sebelum meninggalkan dunia game, aku berpamitan pada mereka semua, berasalan tempatku terkena aliran. Permainan ini sudah kumainkan lama sekali, entah sudah berapa tahun yang lalu. Orang tuaku tidak pernah memiliki anak lagi sehingga aku adalah anak satu-satunya di dalam keluarga. Aku selalu sendiri. Game inilah yang dulu membuatku merasa punya teman, bisa mengobrol dengan banyak orang. Kini, setelah memiliki teman di dunia nyata, aku tidak ingin melepaskan mereka.

Sambil menunggu laptop mati, aku mengambil satu baju, satu celana, satu celana dalam, dan satu handuk untuk dibawa ke kolam. Aku malas membawa tas kesana karena barang yang aku bawa hanya sedikit. Oleh karena itu, alih-alih menjingjing keresek sepanjang jalan, aku lebih memilih menitipkannya ke dalam tasnya Dani. Semoga saja dia tidak berat membawanya. Cuman empat barang aja kok.

Semuanya sudah beres. Elsa, Nurin, Maya, dan Dani sudah menunggu di depan kamar.

“Ayok pegi”

“Yok!”

Perjalanan menuju kolam renang diawali dengan menuruni tangga. Tinggal di lantai empat rusunawa, kami sudah biasa melakukan ini setiap hari. Dani malah pernah membuat lelucon betapa kekarnya kaki kami setelah pulang dari Makassar. Elsa juga bilang sampai kolam tidak perlu melakukan pemanasan, “Wong, kaki kita udah panas tiap hari.” Waktu itu lantai empat sangat sepi. Tidak terlihat orang lalu lalang. Tempat rekreasi, tempat orang-orang biasanya duduk depan laptop untuk cari wifi pun kosong. Sejenak aku bertanya kemana orang-orang. Lantai tiga juga sesepi lantai empat. Benar-benar tidak ada tanda kehidupan. Kulihat jam di hp. Angka di sudut atas menunjukan jam 16.00. Mungkin mereka semua masih di kampus, pikirku. Lantai dua juga tidak ada bedanya. Kulihat sejenak ke dalam ruang rekreasi. Tidak ada orang disana. Hanya ada televisi kecil, satu-satunya televisi yang ada di rusunawa ini. Sebulan tinggal disini, baru dua kali aku menonton televisi. Pertama di rumah Ka Rani. Kedua disini. Itu pun layarnya cuman 3/4. Biasanya tempat ini akan ramai saat malam, berebut televisi. Hal inilah yang bikin aku malas nonton disini.

Sesampainya di lantai dasar, kami bertemu Ka Rani, pengurus rusunawa tempat tinggal kami. Dulu kami pernah ke rumahnya, tempat aku menonton televisi pertama kalinya disini, hari minggu tiga hari setelah idul Adha. Mengetahui kami pergi ke kolam, Ka Rani berseru.

“Hati-hati di jalan, ki!”

Perjalananku pun dimulai.

“The wide world is all about you: you can fence yourselves in, but you cannot for ever fence it out.”
J.R.R. Tolkien (The Fellowship of the Ring (The Lord of the Rings, #1))

Advertisements

Leave a comment

Filed under Short Stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s