Mewahnya Adat Pernikahan Bugis: Sebuah Perjalanan ke Soppeng, Sulawesi Selatan

Proses pernikahan orang bugis berbeda dengan proses pernikahan orang sunda. Saat saya ke daerah Soppeng, Sulawesi Selatan, saya datang ke acara pernikahan saudara salah satu dosen sastra daerah, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, yaitu Prof. Nurhayati Rahman. Beliau berbaik hati mengajak saya dan teman saya, Riki Nasrullah, pergi untuk mempelajari adat pernikahan bugis. Pernikahan saudara beliau dilakukan secara adat yang disebut Mappabotting yang dalam bahasa bugis berarti melaksanakan upacara pernikahan.

Dalam bahasa bugis, istilah pernikahan disebut siala yang artinya saling mengambil satu sama lain. Oleh karena itu, Pelras (dalam Samsuni) mengatakan bahwa “pernikahan adalah ikatan timbal balik antara dua insan yang berlainan jenis kelamin untuk menjalin sebuah kemitraan” (2010) sedangkan pernikahan disebut juga sebagai siabbinéng yang berasal kata biné diartikan sebagai benih padi (Ibrahim dalam Badruzzaman, 2007). Kata biné, dalam tata bahasa bugis, ketika mendapat awalan “ma” berubah menjadi mabbiné yang artinya menanam benih sehingga kata siabbinéng bermakna menanam benih dalam kehidupan rumah tangga (Samsuni, 2010). Awalnya kami mengunjungi keluarga mempelai pria yang letaknya di dekat alun-alun kota Soppeng. Saya terkejut karena di tempat itu sudah ramai padahal acara pernikahannya besok pagi. Tempat itu sudah disulap menjadi seperti tempat pernikahan. Ada prasmanan yang penuh dengan makanan dan cemilan khas bugis. Warna hijau, merah, putih, dan kuning memenuhi seluruh dekorasi. Kursi-kursi sudah berjejer rapi. Ada panggung kecil yang diatasnya diletakan sebuah kursi yang mewah berlambang burung dan berbeda dari kursi yang lain. Sepertinya itu adalah tempat mempelai pria akan duduk. Saya menyadari bahwa tempat itu sudah cocok untuk tempat pernikahan. Walaupun begitu, tempat pernikahan, ternyata, tidak berlangsung di tempat mempelai pria melainkan di tempat mempelai wanita. Jadi, pada saat itu juga sedang berlangsung pesta yang sama di tempat mempelai wanita. Proses ini bisa berlangsung selama seminggu penuh. Bayangkan seminggu penuh menyewa panggung dan memasakan makanan yang begitu banyak. Semua orang boleh datang, baik yang dikenal maupun tidak dikenal, dan makan disana sebagai bentuk syukur keluarga atas pernikahan anak mereka.

Selain itu, hal ini terjadi karena menurut pandangan orang bugis pernikahan bukan hanya menyatukan dua mempelai dalam hubungan suami-istri, tetapi juga suatu upacara yang memiliki tujuan untuk menyatukan dua keluarga besar sehingga hubungan yang sebelumnya erat menjadi semakin erat yang orang Bugis disebut sebagai mappasideppé mabélae atau mendekatkan yang jauh (Pelras dalam Samsuni, 2010). Akibatnya, pernikahan di kalangan masyarakat bugis biasanya berlangsung antar keluarga dekat atau antar kelompok patronasi (endogami) karena keluarga yang sudah dekat umumnya sudah saling memahami sebelumnya (Hadikusuma dalam Samsuni, 2010). Lebih jauh lagi, pesta pernikahan orang bugis sangat berkaitan dengan status sosial mereka dalam masyarakat. Semakin besar, mahal, dan meriah pestanya maka semakin besar juga status sosialnya.

[U]pacara pernikahan merupakan media bagi orang bugis untuk menunjukan posisinya dalam masyarakat dengan menjalankan ritual-ritual serta mengenakan pakaian-pakaian, perhiasan, dan berbagai pernak-pernik tertentu sesuai dengan kedudukan sosial mereka dalam masyarakat. Oleh karena itu, tak jarang sebuah keluarga menjadikan pesta pernikahan sebagai ajang untuk meningkatkan status sosial mereka (Millar dalam Samsuni, 2010).

Saya pernah bertanya kepada Prof. Nurhayati berapa besar mahar yang harus diberikan ketika menikahi seorang wanita bugis. Menurut beliau, minimal mahar yang harus diberikan adalah 50 juta dan itu belum termasuk biaya pernikahan, hantaran, dan sapi yang ditanggung oleh mempelai laki-laki. Saya yang merupakan setengah sunda dan jawa awalnya merasa terkejut dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh mempelai pria. Biaya yang harus dikeluarkan oleh orang Sunda. Orang sunda hanya perlu membayar mahar yang sudah ditentukan menurut syariat Islam. Oleh karena itu, seperangkat alat shalat pun sudah cukup untuk meminang seorang gadis sunda.

Keesokan harinya, kami berangkat pagi-pagi sekali dari Soppeng menuju Wajo, tempat kediaman keluarga pengantin wanita. Disanalah proses pernikahan akan berlangsung. Kami berangkat ramai-ramai dengan tujuan menemani dan mengantarkan pengantin pria menuju tempat mempelai wanita. Tidak hanya keluarga dan sahabat yang ikut serta, tetapi juga hantaran yang jumlahnya sangat banyak. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk bisa sampai ke Wajo yang terkenal dengan pusat pembuatan benang sutra. Disana saya menemukan tempat resepsi pernikahan berupa tenda yang dibangun di lapangan. Mirip sekali seperti tempat resepsi pengantin pria. Warna hijau, merah, kuning, dan perak sangat mendominasi tenda. Sebelum masuk kesana, kami diundang untuk masuk ke sebuah rumah adat yang telah dihiasi pernak-pernik pernikahan. Di depan gerbang ada kepala kerbau yang merupakan hasil rangkaian ritual sebelumnya dan simbol dari pengorbanan. Seluruh hantaran yang dikirimkan oleh keluarga pengantin pria juga dimasukkan ke dalam rumah adat itu. Di dalamnya, berbagai kue khas bugis dihidangkan. Ada kamar pengantin wanita didalamnya

Setelah itu, kami beranjak pergi ke tempat resepsi pernikahan karena acara akan dimulai. Saya kembali melihat kepala kerbau yang tadi. Setelah saya perhatikan, kepala kerbau itu berada didepan sebuah baruga (gerbang) yang bentuknya menyerupai bagian depan rumah panggung suku Bugis. Atapnya berbentuk segitiga dan disangga rangkaian anyaman bambu. Gerbang ini disebut walasuji. “[w]ala suji berasal dari kata wala yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat” (Ogi, 2010).

Wala suji ini menarik karena bentuknya diambil dari aksara lontara dan berfilsafat bahwa dunia ini secara kosmologi berbentuk seperti sulapa eppa` wala suji (segi empat belah ketupat). Keempat sudut dalam wala suji disebut sulapa eppa (empat sisi) yang melambangkan empat arah mata angin, utara, barat, selatan, dan timur dan empat unsur semesta yaitu api, air, angin, dan tanah (Ogi, 2010). Wala suji juga merupakan simbol kesempurnaan seseorang sehingga dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seorang bugis. Ada empat yaitu awaraningeng (keberanian), abbatireng (kekuasaan), amaccangeng (kecerdasan), dan asuguray (kekayaan). Seorang pria bugis wajib memiliki salah satu dari sisi walasuji ini. Jika tidak, maka pria bugis itu dianggap tidak memiliki si’ri dan oleh karena itu tidak boleh menikah.

Di depan gerbang sudah berjajar rapi remaja laki-laki dan perempuan yang menyambut kedatangan pada tamu. Mereka dengan pagar yang dalam budaya sunda disebut pagar ayu dan pagar bagus. Ada bahan-bahan dan perlengkapan yang harus dipersiapkan dalam upacara pernikahan orang Bugis. Pertama adalah sompa, yaitu mahar atau mas kawin yang berbentuk uang tunai sebagai syarat syah untuk meminang dalam Islam. Kedua adalah duí ménré atau duí balanca, yaitu uang belanja dari mempelai pria sebagai syarat sah peminangan menurut adat yang digunakan untuk membiayai pesta pernikahan di tempat mempelai wanita. Ketiga adalah cicing passiok, yaitu cincin emas dari mempelai pria yang bertujuan mengikat mempelai wanita. Keempat adalah sarung sutera untuk hadiah untuk kedua belah pihak keluarga mempelai. Kelima adalah peralatan yang dibutuhkan untuk acara mappacci, yaitu daun pacar, bantal, pucuk daun pisang, lilin, bekkeng (logam yang menjadi tempat daun pacar), wenno (padi yang disangrai), dan daun nangka. Keenam adalah kue-kue tradisional bugis seperti beppa puteh, nennu-nennu, palopo, barongko, paloleng, sanggarak, lapisi, cangkueng, badda-baddang, dan masih banyak lagi. Ketujuh adalah bosara, yaitu tempat penyimpanan kue-kue tradisional bugis. Sedangkan dalam budaya sunda, bahan-bahan yang diperlukan dalam pernikahannya berfokus pada saat posesi narosan atau lamaran (dalam bahasa sunda ngalamar atau nyeureuhan). Barang-barang yang harus dibawa oleh mempelai laki-laki, pertama, adalah lemareun yang terdiri dari daun sirih, gambir, dan apu. Ketiga barang tersebut memiliki simbol persatuan. Sirih yang berbentuk segitiga meruncing rasanya pedas saat dimakan. Gambir rasanya kesat dan pahit dan Apu juga rasanya pahit, tetapi jika ketiga bahan ini dimakan bersama-sama, rasanya akan menjadi enak dan berkhasiat menyehatkan tubuh serta mencegah bau mulut. Kedua adalah pakaian perempuan yang bermakna tanda mulainya tanggung jawab dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Ketiga adalah cincin meneng, yaitu cincin tanpa sambungan yang bermakna rasa kasih dan sayang tidak ada putusnya. Keempat adalah beubeur tameuh, yaitu ikat pinggang yang biasanya dipakai perempuan setelah melahirkan yang bermakna tanda adanya ikatan lahir dan batin antara kedua belah keluarga mempelai. Kelima adalah uang yang jumlahnya   dari jumlah uang yang akan dibawa mempelai pria pada saat seserahan.

Pesta pernikahan dengan adat bugis umumnya dilaksanakan di rumah kedua mempelai. Pada waktu kunjungan kemarin, oleh karena itu, keluarga mempelai pria di Soppeng mengadakan pesta begipula keluarga mempelai wanita di Wajo berbeda dengan pesta pernikahan adat sunda yang hanya dilaksanakan di tempat mempelai wanita. Walaupun begitu, acara akad nikah, baik bugis maupun sunda, dilaksanakan di rumah mempelai wanita (untuk pengantin bugis pada tahap mappenré botting). Beberapa kasus menunjukan bahwa ada beberapa pasangan sunda yang mengadakan akad nikah di masjid, tetapi masih tetap di dekat tempat mempelai wanita. Karena pesta pernikahan orang bugis berlangsung di dua tempat, maka biaya yang dibutuhkan juga lebih besar dibandingkan dengan pesta pernikahan orang sunda. Lebih jauh lagi, biaya pesta ditanggung semuanya oleh keluarga mempelai pria pada suku bugis yang biasanya memberatkan berbeda dengan biaya pesta pernikahan orang sunda yang biasanya ditanggung oleh keluarga mempelai wanita. Walaupun begitu, bagi keluarga yang ingin menghemat biaya, pesta pernikahan bisa dilakukan hanya di satu tempat (biasanya di tempat mempelai wanita) yang biasanya pesta pernikahan ini disebut dengan masséddi dapureng. Ada pasangan bugis modern yang membagi biaya pernikahan setengah dari perempuan dan setengah dari laki-laki, tetapi biasanya perjanjian ini hanya dilakukan oleh kedua mempelai dan tidak boleh diketahui oleh keluarga kedua mempelai.

Pelaksanaan upacara adat, baik adat bugis dan adat sunda, secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap, yaitu upacara pra pernikahan, pesta pernikahan/resepsi, dan pasca pernikahan. Dalam laporan ini, saya akan menganalisan perbedaan upacara pra pernikahan adat bugis dengan pernikahan adat sunda.

Tahap pertama upacara pra pernikahan adat bugis adalah pemilihan jodoh. Masyarakat bugis umumnya cenderung memilih jodoh dari lingkungan keluarga sendiri karena dianggap sebagai hubungan perjodohan yang ideal, yaitu siala massaposiseng (pernikahan antar sepupu satu kali), siala massapokadua (pernikahan antar sepupu dua kali), dan siala massoppokatellu (pernikahan antar sepupu tiga kali) (Pelras dalam Samsuni, 2010). Walaupun begitu, perjodohan antar sepupu tidak diwajibkan sehingga pria yang menikah bisa memilih jodoh dari lingkungan luar kerabat. Perjodohan ideal selain dari kerabat adalah assikapukeng, yaitu perjodohan yang didasarkan ada kedudukan (kedua mempelai memiliki stratifikasi sosial yang sederajat di dalam masyarakat). Disisi yang lain, pada budaya sunda sudah jarang orang tua yang menjodohkan kedua anaknya sehingga upacara pra pernikahan orang sunda langsung ke poin kedua yaitu penjajakan.

Tahap kedua upacara pra pernikahan orang bugis adalah mammanu’-manu’ disebut juga mappése-pése, matiro, atau mabbaja laleng. Dalam budaya sunda proses penjajakan ini disebut dengan neundeun omong. Dalam adat bugis, penjajakan dilakukan secara rahasia oleh pihak laki-laki dengan mengirimkan seorang perempuan untuk memastikan apakah calon gadis yang dipilih sudah terikat atau belum juga untuk mengetahui jati diri sang gadis dan orang tuanya, terutama hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan rumah tangga, adab dan sopan santun, kecantikan, dan pengetahuan agamanya. Mirip dengan adat bugis, dalam adat sunda, nendeun omong juga dilakukan untuk mengetahui latar belakang calon gadis yang akan dipinang, tetapi dilakukan oleh pihak orang tua pengantin pria yang bertamu kepada calon besannya (calon pengantin perempuan). Bisa dikatakan berbeda dengan adat bugis yang melakukan penjajakan secara rahasia, dalam budaya sunda penjajakan dilakukan secara terang-terangan. Kedua keluarga saling berbicara santai penuh canda tawa yang diselingi pertanyaan yang bersifat menyelidiki status anak perempuan yang akan dilamar. Pada jaman dahulu, saat perjodohan masih marak terjadi di kalangan sunda, kadang-kadang anak-anak mereka tidak tahu walaupun orang tua sudah sepakat untuk menikahkan kedua anak mereka. Di beberapa daerah tertentu, orang tua saling mengirimkan barang seperti orang tua anak laki-laki mengirim rokok cerutu. Jika orang tua anak perempuan setuju, maka mereka akan membalasnya dengan benih labu siem (waluh siem). Dengan demikian, anak perempuan mereka telah diteundeunan omong (Sanggarsr, 2010).

Tahap ketiga adalah meminang. Dalam adat bugis meminang disebut madduta atau massuro yang artinya pihak laki-laki mengutus beberapa orang baik dari kalangan keluarga maupun selain keluarga yang terpandang (disebut To Madduta) untuk menyampaikan lamaran kepada pihak keluarga perempuan. Peran To Madduta sangat penting untuk menentukan diterima atau tidaknya lamaran sehingga “To Madduta harus berhati-hati, bijaksana, dan pandai membawa diri agar kedua orang tua gadis itu tidak tersinggung” (Mame dalam Samsuni, 2010). Dalam budaya sunda, meminang disebut dengan narosan, ngalamar, atau nyeureuhan. Ini adalah proses bertamu keluarga pria ke keluarga wanita. Istilah ngalamar sendiri diambil dari barang yang dibawa pada saat meminang yaitu lemareun yang terdiri dari sirih, gambir, dan apu. Pada saat narosan keluarga laki-laki dating sambil membawa lemareun, pakaian perempuan, cincin meneng, beubeur tameuh, dan uang yang jumlahnya 1/10 dari jumlah yang akan dibawa pada saat proses selanjutnya yaitu seserahan. Berbeda dengan sunda yang menyerahkan 1/10 uang pada saat meminang, dalam adat bugis, pada saat meminang, keluarga pria tidak hanya membayar sompa atau mahar sebagai kewajiban seorang muslim, tetapi juga memberikan dui’ menré (uang naik) atau dui’ balanca (uang belanja) kepada keluarga perempuan yang dibicarakan pada acara mappettu ada. (ada yg membedakan)

[D]ui’ menré merupakan uang petindih, yaitu uang jemputan kepada pihak perempuan sebagai salah satu syarat sahnya pinangan atau pertunangan menurut adat. Dalam pembicaraan ini terjadi tawar-menawar antara To Madduta [yaitu utusan pihak keluarga laki-laki] dan To Riaddutai [yaitu pihak keluarga gadis yang dikunjungi] (Hadikusumah dalam Samsuni, 2010).

Semakin besar status sosial keluarga perempuan maka semakin besar dui’ menré yang harus diserahkan oleh pihak laki-laki (Abdullah dalam Samsuni, 2010). Konon, minimal dui’ menré yang harus dibayarkan adalah 50 juta rupiah. Biaya ini bisa bertambah jika gadis yang akan dipinang memiliki pendidikan yang tinggi. Berbeda dengan budaya bugis, budaya sunda tidak mengenal dui’ menré tetapi hanya biaya mahar sesuai dengan syariat Islam saja. Setelah diterimanya pinangan, acara selanjutnya adalah pembicaraan masalah tanré esso, yaitu penentuan hari pernikahan yang biasanya disesuaikan dengan penanggalan Islam.

Tahap keempat adalah mappasiarekeng, yaitu pengukuhan kembali kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dan dilaksanakan di tempai mempelai perempuan. Acara ini ditandai dengan pemberian hadiah tunangan kepada pihak mempelai wanita sebagai passio (pengikat) yang berupa cincin emas, tebu (simbol kebahagiaan), panasa atau buah nangka (simbol minasa atau pengharapan), sirih pinang, sokko (nasi ketan), dan kue-kue tradisional (Pelras dalam Samsuni, 2010). Selain itu, mempelai pria juga menyerahkan dui’ ménre yang diwakili oleh kerabat terdekat. Dalam budaya sunda, tahap keempat ini disebut nyandakan atau seserahan yang juga mempelai pria membawa uang yang besarnya 10 kali lipat uang yang dibawa pada saat melamar.

Tahap kelima adalah mappaiseng dan mattampa (menyebarkan undangan). Pada adat bugis, kegiatan ini biasanya dilakukan sekitar satu hingga sepuluh hari sebelum resepsi pernikahan dilakukan.

Tahap keenam adalah mappatettong sarapo atau baruga yaitu mendirikan bangunan sarapo (didirikan di kiri dan kanan rumah induk) dan baruga (didirikan terpisah dari rumah induk) yang pada keduanya dipasang dinding yang terbuat dari anyaman bambu (walasuji). Bangunan ini dibangun kira-kira tiga hari sebelum pesta dimulai. Pada budaya sunda tidak ada proses ini.

Ada dua tahap yang ada di adat sunda dan tidak ada di ada bugis yaitu ngecagkeun aisan dan ngaras. Ngecagkeun aisan dilaksanakan sehari sebelum acara resepsi pernikahan dan diselenggaraka di tempat mempelai wanita. Upacanya ini menyimbolkan lepasnya tanggng jawab kedua orang tua calon pengantin. Pada upacara ini, orang tua calon pengantin perempuan keluar dari kamar sambil membawa lilin atau palika dan dibelakangnya diikuti oleh calon pengantin perempuan sambil dililit atau diais oleh ibunya. Di tengah ruangan, duduk dikursi yang ada dan biasanya diiringi alunan kecapi suling yang lagunya ayun ambing. Tahap selanjutnya adalah upacara ngaras, yaitu membasuh kedua telapak kaki orang tua sebagai tanda berbakti. Yang menarik adalah ada mantra yang harus diucapkan baik oleh calon pengantin perempuan dan juga orang tua perempuan. Calon pengantin perempuan bersujud dipangkuan orangtuanya sambil berkata:

“Ema, Bapa , disuhunkeun wening galihna, jembar manah ti salira. Kersa ngahapunten kana sugrining kalelepatan sim abdi. Rehing dina dinten enjing pisan sim abdi seja nohonan sunah rosul. Hapunten Ema, hapunten Bapa hibar pangdu’a ti salira “

Orang tuanya pun menjawab:

Anaking! Titipan Gusti Yang Widi! Ulah salempang hariwang, hidep sieun teu tinemu bagja ti Ema sareng ti Bapa mah, pidu’a sareng pangampura, dadas keur hidep sorangan, geulis!

 

Tahap ketujuh adalah mappassau botting dan cemmé passili’. Masppassau botting artinya adanya merawat pengantin yang dilakukan di dalam satu ruangan selama tiga hari sebelum akad pernikahan dengan menggunakan ramuan alami seperti daun sukun, daun coppéng (seperti anggur), daun pandan, rempah-rempah, dan akar-akar berbau harum. Lebih jauh lagi, cemmé passili’ adalah mandi tolak bala yang dilakukan sehari sebelum akad pernikahan jam 10 pagi. Bagi kaum perempuan, acara dilanjutkan dengan ritual maccéko yang berarti mencukur bulu halus. Berbeda dengan adat bugis, dalam ada sunda proses pemandian diberi nama siraman yang menggunakan air bunga tujuh rupa (kembang setaman) dan menyimbolkan bahwa “untuk menuju sebuah mahligai rumah tangga yang suci harus diawali dengan tubuh serta niat yang suci pula” (Sanggarsr, 2010). Ketika siraman telah selesai, maka diakhiri dengan melafalkan mantra-mantra atau jangjawokan.

cai suci cai hurip

cai rahmat cai nikmat

hayu diri urang mandi

nya mandi jeung para Nabi

nya siram jeung para malaikat

kokosok badan rohani

cur mancur cahayaning Allah

cur mancur cahayaning ingsun

cai suci badan suka

mulih badan sampurna

sampurna ku paraniama

Upacara selanjutnya adalah ngerik atau ngeningan, yaitu mengerik bulu-bulu sekitar wajah agar hasil riasannya baik. Ada pun mantera yang diucapkan adalah sebagai berikut.

Peso putih ninggang kana kulit putih

Cep tiis taya rasana

Mangka mumpung mangka melung

Maka eunteup maka sieup

Mangka meleng ka awakii Ngeuyeuk Seureuh  

Kata ngeuyeuk berasal dari kata ngaheuyeuk yang artinya mengurus, mengolah. Jadi, Ngeuyeuk Seureuh adalah mengurus lembaran-lembaran daun sirih yang disusun dikedua lembar perut daun sirih (beuteung seureuh) dan disatukan. Kemudian, diikat menggunakan tali dari benang (kanteh). Acara selanjutnya yaitu berlomba membuat lukun, yaitu gulungan daun sirih yang telah dibubuhi apu dan gambir.

Pada adat bugis juga terdapat proses penyucian diri yang disebut dengan mapacci (pacci artinya bersih) atau tudammpenni (berarti duduk malam) yang dilakukan kedua mempelai sehari sebelum hari akad pernikahan di rumah masing-masing. Kata mappaci berasal dari kata pacci, yaitu daun pacar, tetapi secara harfiah artinya adalah mensucikan diri pada malam menjelang hari akad nikah (Samsuni, 2010). Kebetulan pada saat saya ke Soppeng, saya menyaksikan saat mempelai pria melakukan ritual mappaci ini. Pada saat itu mappaci dimulai dengan penjemputan (padduppa) mempelai pria yang dipersilahkan dudul di pelaminan dan disampaikan oleh juru bicara keluarga melalui ungkapan dibawah ini.

Patarakkai mai bélo tudangeng
Naripatudang siapi siata
Taué silélé uttu patudangeng
Padattudan mappacci siléo-léo
Riwenni tudammpenni kuaritu
Paccingi sia datu bélo tudangeng
Ripatajang mai bottingngé
Naripatteru cokkong di lamming lakko ulawéng

Perlengkapan yang dibutuhkan pada mappacci adalah satu buah bantal sebagai simbol mappakalebbi atau penghormatan, tujuh lembar sarung sutra yang menyimbolkan harga diri, selembar pucuk daun pisang yang menyimbolkan kehidupan yang berkesinambungan, tujuh sampai sembilan daun nangka yang menyimbolkan ménasa atau harapan, sepiring wenno (padi yang disangrai) yang menyimbolkan berkembang dengan baik, sebatang lilin untuk penerangan, daun pacar yang menyimbolkan kesucian, dan bekkeng yaitu temppat pacci yang terbuat dari logam yang menyimbolkan penyatuan dua insan. Kemudian, MC memanggil kerabat-kerabat dan tamu untuk meletakan dan mengusapkan pacci ke telapak tangan calon mempelai. Semakin penting dan tinggi status sosialnya maka semakin pertama urutan kerabat atau tamu undangan itu.

Demikianlah upacara pra pernikahan. Ada perbedaan pada budaya adat bugis dan adat sunda. Ada beberapa upacara adat yang ada di adat bugis, tetapi tidak ada di adat sunda begitu juga sebaliknya. Walaupun begitu, inti dari pra pernikahan baik dari adat sunda maupun sunda mirip, yaitu memilih jodoh, meminang, penyerahan mahar, dan pembersihan diri. Perbedaannya adalah pernikahan adat sunda lebih sederhana dibandingkan dengan adat bugis. Contoh yang paling mencolok adalah besarnya biaya dui’ ménre pada pernikahan bugis yang pada budaya sunda tidak ada. Walaupun terlihat lebih mewah, pernikahan adat bugis juga memiliki efek yang besar terhadap pasangan bugis yaitu sulit untuk melakukan perceraian. Oleh karena itu, sepertinya ada ironi dalam kedua budaya ini, bugis dan sunda. Dalam budaya bugis, sulit untuk menikah tetapi sulit juga untuk bercerai sedangkan dalam budaya sunda mudah untuk menikah tetapi mudah juga untuk bercerai. Lebih jauh lagi, dalam pra pernikahan adat sunda, ada percakapan antara mempelai dan orang tuanya dan juga ada mantra-mantra yang dikeluarkan sebagai bentuk doa sedangkan dalam dalam pra pernikahan bugis juga ada doa yang berbentuk ungkapan pada saat mappacci.

Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Informasi lebih lanjut mengenai pernikahan suku bugis akan saya tulis lagi di postingan selanjutnya.

IMG_20151011_143941 IMG_20151011_110908 IMG_20151010_213744 IMG_20151010_194905

Daftar Pustaka

Abdullah, H. 1983. Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.

Badruzzaman. 2007. “Peranan syara’ dalam perkembangan Islam di Sulawesi Selatan”, [Online]. Tersedia dalam (http://bz69elzam.blogspot.com [diakses pada tanggal 22 Oktober 2015]).

Hadikusuma, Hilman. 2003. Hukum perkawinan adat dengan adat istiadat dan upacara adatnya. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Mame, A. Rahim, et. al. 1977/1978. Adat dan upacara perkawinan Sulawesi Selatan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Mattulada. 1985. Latoa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ogi. 2010. “Nikmatnya nikah bugis”, [Online]. Tersedia dalam (http://www.timur-angin.com/2010/08/nikmatnya-nikah-bugis.html [diakses pada tanggal 22 Oktober 2015]).

Pelras, C. 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Forum Jakarta- Faris Ecole francais d’Extreme-Orient.

Samsuni. 2010. “Mappabotting: upacara adat perkawinan orang bugis, Sulwesi Selatan”, [Online]. Tersedia dalam (http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2622 [diakses pada tanggal 22 Oktober 2015]).

Sanggarsr. 2010. “Upacara adat sunda pra pernikahan”, [Online]. Tersedia dalam (http://sanggarsr.blogspot.co.id/2010/06/upacara-adat-sunda-pra-pernikahan.html [diakses pada tanggal 22 Oktober 2015]).

Advertisements

Leave a comment

Filed under Non-Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s