Hujan di Makassar

Awalnya saya berniat menulis pendapat saya mengenai wacana musibah di Prancis yang beberapa orang anggap penderitaanya tidak seberapa dengan musibah yang ada di Palestina baru-baru ini. Sayang sekali, pas nyampe ke Rusunawa, saya malah mendapat sebuah pengalaman aneh. Pengalaman yang harus segera ditulis ke dalam sebuah cerita, keburu lupa.

“Hujan tahu kapan harus membasahi kota ini. Hujan juga tahu kapan harus berhenti.”
Windry Ramadhina, London: Angel

Capek sudah hari ini. Aku berdiri di lantai empat, persis di depan pintu kamarku. Terkunci. Raka tak ada. Pasti pergi untuk berdakwah lagi. Teman sekamarku yang satu itu hebat memang. Masih muda, tapi sudah menulis buku. Sekarang banyak diundang kesana-kemari untuk dibedah. Ah, beda dengan diriku yang setiap kuliah langsung pulang, setiap kuliah langsung pulang.

Kucermati setiap ujung jariku. Basah. Habis hujan memang. Sudah tiga hari berturut-turut di kota Makassar. Tapi entah kenapa hujan disini aneh. Hujannya besar. Membawa perubahan suasana yang drastis. Sudah dua bulan aku disini. Selama itu panas betul dari pagi sampe malam. Tapi, saat hujan datang dinginnya tak karuan. Bikin toko-toko tutup. Bikin pilek dan batuk. Buktinya, hampir seluruh tetangga kamar kena. Ada juga yang kena demam. Tuh, si Dani yang baru pulang dari Semarang. Mungkin karena kecapean.

Tetesan air hujan masih kudengar. Sepertinya langit masih belum selesai merintih. Terkadang aku penasaran bagaimana perasaan matahari. Saat dia dihalangi oleh awan menyinari muka bumi. Apakah dia sedih? Atau mungkin manusia yang sedih? Ingin masuk kamar saja rasanya daripada mikirin itu. Tapi, belum sempat aku ambil kunci di atas jendela, ada yang memanggil. Kutengok ke belakang. Ada kak Icha, penjaga rusun. Eh, tunggu. Tapi tidak hanya ada kak Icha. Kok rame sekali. Ada teman-teman pengurus rusun yang lain juga. Kak Meki, Kak Risma, dan Kak Anggun. Mereka berdiri di depan kamar Dani. Pintunya terbuka. Kak Icha melambai. Dia berteriak.

“Zam, kemari kau! … Dani kesurupan!”

Dani terbujur kaku di kasur. Disana ada Fahmi, teman sekamarnya. Fahmi itu tinggi dan besar bak pemain basket. Aksen medannya juga kental. Bikin orang yang baru kenal dia pasti takut. Tapi sebenarnya hatinya baik, seperti orang medan kebanyakan. Beda dengan Dani, kebalikannya.

Tangannya Dani bergetar dan terlipat sedemikian rupa seperti keong, sulit dijelaskan. Dia menggigil. Entah berapa selimut yang ada diatasnya. Ada ayat-ayat suci yang dibacanya dicampur doa laknatan tuk setan. Kulihat Fahmi mendekati Dani. Fahmi adzan. Aku tak mengerti. Fahmi membaca ayat kursi. Aku tak mengerti. Kadang-kadang Dani tertawa, entah tertawa karena apa. Kadang-kadang dia juga meronta-ronta. Tangan dan kakinya dingin tapi kepalanya panas. Aneh sekali. Sontak, kukirim pesan di grup line.

Dani kesurupan, cepat ke kamarnya!

Tapi. pesanku tidak mau terkirim dan malah gagal. Koneksi indo*at memang kurang baik disini. Kadang-kadang malah tidak dapat koneksi 3G Bergegas aku keluar kamar tuk cari sinyal. Tring. Terdengar suara. Tanda pesan terkirim.

Hujan kembali turun. Deras. Ingatan akan dinginnya tiga hari kemarin langsung menyusup di sela-sela jariku. Kulihat awan mendung yang semakin hitam. Hujan hari ini berbeda. Dia tidak hanya membawa dingin. Dia juga membawa sepi. Dia membawa suasana aneh yang mengganggu. Entah apa itu. Aku tak yakin.

Tiba-tiba, terdengar teriakan dari dalam kamar. Teriakan Dani. Teriakan kesakitan. Sakit karena diikat. Aku tak mengerti. Dia mengeluh tangannya tak bisa digerakan. Disela-sela rintihan itu, terdengar juga suara tertawa. Sekali-dua kali. Aku tak yakin. Bunyi guyuran hujan di dekat beranda terlalu besar. Mengganggu. Pingin aku masuk untuk memastikan. Tapi, tiba-tiba ada yang datang. Lari terburu-buru.

“Bagaimana …. kabar …Dani, Zam?” kata Adi.

Air mengguyur pelan ke sela-sela jari. Kemudian merembes ke pori-pori wajah. Segar sekali. Sampe ujungnya ke mata kaki. Ritual ini memang menyenangkan. Nabi bilang lakukanlah saat kamu bingung atau marah. Tuhan memang tidak terlihat. Tapi, entah kenapa kurasa diri-Nya sangat dekat saat ini.

Kota Makassar sedang bersedih. Sedihnya membuat langit sendu. Tak ada tawa atau canda hari itu. Burung-burung gereja terbang menari-nari diatas rusun yang kebasahan. Ikut serta merayakan kesedihan. Aku terpana melihat jendela. Hujan masih turun. Lampu juga mati. Gelap. Akan semakin gelap nanti malam. Dan Dani ada disampingku saat itu. Masih berkomat-kamit. Seringnya diam. Sunyi. Ada banyak orang sebenarnya. Tapi semuanya juga diam. Tak ada yang cukup alim dan berilmu. Beberapa sepertiku malah baru melihat kejadian seperti itu. Adapun Raka yang paling suka ngaji. Saat kami membutuhkan, dia malah menghilang.

Kutarik sajadah. Sudah jam lima. Hujan masih turun. Aku belum ashar. Fahmi bilang kalau roh lawang sewu dalam diri Dani bisa menular. Siapa yang tidak takut?

Rakaat pertama khusyuk sekali. Rakaat kedua ada beberapa hal mengganjal. Seperti apakah roh benar-benar ada? Rakaat ketiga, kucuri pandang ke jendela sebelah kiri. Aku melihat hujan. Belum reda. Sesekali terlihat Dani disana. Terbaring diam –Ada seseorang juga disebelahnya.

“Bagai hujan lebat, kamu adalah sosok yang datang tiba-tiba membuat abu-abu”
Taufiq Wicahyono

Dia berbaju serba hitam. Ah, cepat sekali Fahmi berganti baju. Bacaan al-Fatihahku sudah berakhir. Kujeda sejenak. Menimbang-nimbang surat apa selanjutnya. Fahmi masih disana. Hanya diam terpaku sepertinya. Kuputuskan membaca ayat kursi. Mungkin akan ada efeknya nanti buat Dani.

Kubaca ayat kursi pelan. Pelan sekali. Seperti tetesan hujan rintik-rintik yang kusuka. Enak sekali. Lantunan ayat suci itu seperti menari-nari. Karya Tuhan yang paling Indah. Aku tenggelam dalam keindahan-Nya. Melamun sendiri. Sendiri.

Dani tiba-tiba berteriak keras!

Aku kaget. Saking kagetnya sampai menoleh ke samping. Tidak sadar kubatalkan shalat. Kulihat sosok hitam yang kukira Fahmi. Dia bukan Fahmi. Dia bukan Fahmi! Dia tidak duduk disamping Dani melainkan diatasnya. Ya Tuhan diatasnya. Gila! Sosok itu mengenakan kerudung. Wanita! Kepala itu menunduk, perlahan-lahan menengadah ke arahku. Aku melihat wajahnya! Pucat. Tidak kukenal. Tak pernah kulihat. Dia tersenyum. Mengerikan! Kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Hujan mungkin sudah berhenti. Aku pingsan.

payungan.jpg

Advertisements

Leave a comment

Filed under Creative Writing, Prose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s