Dilema Bahasa Indonesia: Dijajah Bahasa Inggris dan/atau Menjajah Bahasa Bugis

Diterbitkan di koran Identitas Universitas Hasanuddin bulan November 2015.

“But if thought corrupts language, language can also corrupt thought.”
― George Orwell, 1984

Pada hari Rabu, 28 Oktober 2015 kemarin, saya mengikuti sebuah acara peringatan sumpah pemuda yang diadakan oleh jurusan sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini juga merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Temu Ilmiah, Bulan Bahasa dan Dies Natalis Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Pada kesempatan itu, ada dua pembicara yang hadir yaitu Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, M.S, guru besar bahasa Indonesia –Lingustik, Universitas Hasanuddin, dan Basri, jurnalis harian FAJAR.

Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, M.S membuka sesi pembahasan dengan membuat para peserta mengingat kembali momen saat sumpah pemuda dibentuk 87 tahun yang lalu. Menurut Prof. Darwis, dalam makalahnya yang berjudul Mari Berikrar Menjunjung Bahasa Indonesia sebagai Produk Budaya yang Berprestise, “setiap anak bangsa perlu memperbaharui sumpah [pemuda]” karena “adanya gejala ketidakbanggaan anak bangsa terhadap bahasa Indonesia sebagai produk budaya nasional” (Darwis, 2015: 1). Hal ini terjadi karena bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa yang kolot akibat penggunaan bahasa Inggris pada nama-nama gedung dan badan usaha. Oleh karena itu, bahasa inggris dianggap oleh anak bangsa sebagai bahasa yang memiliki nilai kemodernan (Darwis, 2015: 1). Lebih jauh lagi, Prof. Darwis mengutip sebuah pidato yang isinya banyak mengandung diksi-diksi berbahasa inggris seperti realistic, achievable, attainable, emerging power, emerging nation, emerging country dan banyak lagi. Bahasa Indonesia akhirnya menjadi bahasa inlander dan inferior yang kalah dengan bahasa asing (Darwis, 2015: 2). Ketimpangan penggunaan bahasa inilah yang mencerminkan bahwa bangsa Indonesia walaupun sudah merdeka 70 tahun, tetapi masih dijajah oleh bangsa asing melalui bahasa. Keadaan ini mirip seperti apa yang Sujata Bhatt, seorang penyair India, tulis dalam salah satu puisinya yang dikutip oleh Alwi Rachman dalam bukunya Ruang Sadar tak Berpagar.

Jika engkau punya dua lidah, punya dua bahasa,
Aku ingin bertanya, apa yang engkau akan lakukan,
jika engkau kehilangan lidah pertama, kehilangan bahasa ibu,
Padahal engkau tak tahu betul lidah kedua bahasa asing,…
(Bhatt dalam Rachman, 2015: 11)

Hal yang serupa juga diungkap oleh Gloria Evangelina Anzaldua, seorang penulis Amerika, dalam esainya How to Tame Wild Tongue. Dia berkata bahwa “[l]idahku adalah bahasaku. Bahasaku adalah identitasku. Identitasku adalah rumahku” (Anzaldua dalam Rachman, 2015: 8). Dalam konteks bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sendiri saya melihat bahwa ada gejolak perperangan identitas ketika seorang orang Indonesia menguasai dua bahasa tersebut. Contohnya, saya sebagai orang Indonesia yang belajar sastra Inggris lebih banyak membaca karya fiksi Amerika dibandingkan karya fiksi Indonesia. Memang, hal ini terjadi tidak hanya karena genre science fiction, yang saya coba kuasai, lebih banyak ditemukan di kesustraan Amerika dibandingkan Indonesia, tetapi juga karena masih ada perasaan bahwa cara orang Amerika menulis lebih baik daripada cara orang Indonesia menulis. Oleh karena itu, saya sebenarnya terjebak diantara menjadi penulis pribumi atau menjadi alien di atas tanah sendiri. Alwy Rachman oleh sebab itu, mengkritik bahwa dunia barat, dalam konteks ini bahasa Inggris, “memotori peradaban global, lambat, atau cepat, [dan] akan menggeser habis teknologi manusia-manusia lokal” (Rachman, 2015: 15). Walaupun begitu, menurut Gloria, bahasa adalah “kulit kembar dari identitas diri” sehingga di jaman sekarang tidak mungkin seseorang hanya memiliki satu identitas saja. Seseorang harus sadar dirinya menggunakan bahasa milik sendiri atau orang lain (Rachman, 2015: 10). Hal ini menyebabkan bahasa inggris dapat menghilangkan eksistensi dan jati diri bahasa Indonesia atau sebaliknya, bahasa Indonesia dapat menerkan dan melumat habis eksitensi dan jati diri bahasa Inggris. Kedua hal tersebut tidak tetap dan selalu bergeser tergantung yang mana yang lebih dominan, apakah bahasa Indonesianya atau bahasa Inggrinya. Kadang-kadang kita merasa bahasa Inggris lebih penting, tetapi terkadang juga kita merasa bahasa Indonesia jauh lebih penting. Contohnya, saat seseorang pergi keluar negeri tentunya bahasa Inggris yang lebih berharga, tetapi jika seseorang berpergian ke daerah nusantara, tentunya bahasa Indonesia yang bisa lebih mudah digunakan. Jadi sepertinya ada kondisi yang menentukan harga jual bahasa dan penting tidaknya penggunaan bahasa itu.

Walaupun begitu, keberadaan bahasa Indonesia menjadi dua sisi mata koin bagi penggunannya sendiri. Di satu sisi, keberadaannya terkikis oleh hadirnya bahasa Inggris, tetapi di sisi yang lain bahasa Indonesia mengikis keberadaan bahasa daerah. Jika bahasa Indonesia dianggap bahasa kolot, maka bahasa daerah dianggap bahasa yang lebih kolot.

[B]ahasa daerah akan mengalami pelemahan…Kelemahan yang sungguh-sungguh terasa pada bahasa daerah itu ialah daya dukung kosakatanya yang sudah jauh dari memadai. Untuk menyampaikan pidato, begitu juga berdiskusi mengenai hal-hal yang pelik dalam bahasa daerah terasa sekali kekurangan daya ungkap bahasa daerah. Tanpa dukungan bahasa lain, terutama bahasa Indonesia, bahasa daerah akan terus-menerus mengalami ketertinggalan dan hal yang demikian dapat memacu utama punahnya bahasa daerah tersebut (Darwis, 2015: 3).  

Walaupun kedua orang tua memiliki latar belakang bahasa daerah, anak-anaknya tetap akan kehilangan kemampuan berbahasa daerah akibat penggunaan bahasa Indonesia di rumah, masyarakat, dan sekolah. Di pulau jawa, misalnya, perkawinan antar suku sudah membuat orang tua lebih nyaman berbicara dengan anaknya menggunakan bahasa Indonesia. Mereka baru menggunakan bahasa daerahnya ketika bertemu dengan orang yang sesuku. Banyaknya perumahan-perumahan yang dibangun dan berisi multietnis, juga, menyebabkan masyarakat lebih aman menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Ironi memang, ketika 87 tahun yang lalu bahasa Indonesia didaulat menjadi bahasa persatuan, pada saat itu juga, bahasa Indonesia menjajah bahasa daerah kita sendiri.

Hal serupa juga disampaikan oleh Basri, jurnalis Harian FAJAR dalam acara kemarin. Dalam tulisannya berjudul Memang Bukan Berbahasa Satu, Basri menggunakan kalimat bugis yang menggambarkan keadaan bahasa Indonesia yang lebih dihargai daripada bahasa bugis, yaitu macca muannengni anakku mabbasa Malayu (sudah pintar anakku berbahasa melayu). Kalimat itu adalah ucapan syukur seorang Ibu ketika anaknya berhasil menguasai bahasa melayu atau Indonesia. Menurut Basri, “obsesi ibu untuk menyekolahkan anaknya adalah supaya kelak menguasai bahasa Melayu” (bahasa Indonesia) karena Ibu Basri tidak bisa bisa berbahasa Indonesia akibat faktor pendidikan. Dari statement ini, saya bisa melihat bahwa ternyata pendidikan juga menjadi faktor penting kenapa bahasa Indonesia dianggap lebih penting dan berharga karena memang bahasa Indonesia harus dipelajari di sekolah. Jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, pun, pendidikan yang dibeli untuk menguasai bahasa Inggris lebih mahal jika dibandingkan bahasa Indonesia. Bahasa Inggris dianggap lebih menjual dibandingkan bahasa Indonesia begitu juga dengan bahasa Indonesia yang dianggap lebih menjual dibandingkan bahasa daerah. Oleh karena itu, banyak kursus-kursus bahasa Inggris menjamur di seantero negeri ini. Jika dibandingkan dengan kursus bahasa Indonesia tentunya jumlah jauh berbeda, apalagi jika dibandingkan dengan kursus bahasa daerah. Walaupun begitu, tulisan Basri tidak fokus pada hal tersebut, melainkan kepada identitas bangsa melalui bahasa, senada seperti yang diungkapkan Anzaldua dan Rachman. Menurut Basri, “bahasa itu menunjukan jati diri bangsa” sehingga “bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu, [seharusnya], terus menjadi bahasa pemersatu antar bahasa-bahasa suku bangsa yang berbeda-beda itu. Bukan berbahasa satu yang justru membunuh bahasa-bahasa etnik.” Oleh karena itu, kalimat ketiga sumpah pemuda tidak tertulis satu bahasa atau berbahasa satu, melainkan menjungjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Kutipan:

Basri. “Memang Bukan Berbahasa Satu” dalam Harian FAJAR. Makassar: Media Fajar Koran, 2015.

Darwis, Muhammad. Mari Berikrar Menjunjung Bahasa Indonesia sebagai Produk Budaya yang Berprestise. Makassar, 2015.

Rachman, Alwy. Ruang Sadar tak Berpagar. Makassar: Nala Cipta Litera, 2015.

 

1447915623047

Advertisements

Leave a comment

Filed under Non-Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s