Perahu Dunia: Sebuah Petualangan ke Toraja, Sulawesi Selatan

Sebelum memulai cerita petualangan hari ini, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada kedua dosen pembimbing saya. Bukannya mengerjakan tugas pokok saya sebagai mahasiswa, yaitu skripsi, saya malah rajin menulis di blog. Juga, kepada teman-teman Rusunawa. Mohon maaf telah memulai pertualangan ini duluan dan seorang diri. Terakhir, kepada pembaca yang penasaran tentang petualangan saya dua bulan terakhir. Masi banyak cerita-cerita lain yang belum saya tuliskan disini karena satu dan dua hal. Semoga semuanya rampung, termasuk skripsi, sebelum saya pulang ke Bandung.

Ada keinginan untuk menuliskan pula cerita ini dalam bahasa Inggris. Dunia juga harus tau tentang Toraja. Tapi, mungkin akan saya lakukan di Bandung saja mengingat banyak cerita yang mengantri tuk ditulis.


 

IMG_20151121_184940

Tongkonan berjejer rapi. Aku melihat langit. Biru seperti laut. Dan tongkonan adalah perahunya. Perahu tuk raungi lautan dunia. Menuju alam baka.

Sebenarnya, tidak pernah terpikir olehku untuk bisa datang ke Toraja, tidak bulan ini, November. Waktu itu, Bu Neni, dosen matakuliah Pengantar Pariwisata, mengajak kami pergi ke Enrekang untuk menghadiri pernikahan Enchi, mahasiswa sastra daerah. Kami yang dimaksud adalah aku dan Riki. Riki adalah mahasiswa sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Bersamaku, Riki mendapat tawaran belajar satu semester di Universitas Hasanuddin. Sedangkan Bu Neni adalah salah satu dosen terbaik yang pernah kutemui. Beliau juga pernah mengajak kami Bulukumba untuk menghadiri prosesi pernikahan. Perjalanan itu belum pula aku tuliskan di blog, mungkin beberapa hari lagi. Memang, tak pernah lepas jalan-jalan kami dengan hal-hal akademik. Hal yang aku syukuri sebagai mahasiswa FIB. Sayangnya, Riki untuk kesempatan kali ini tidak bisa ikut akibat harus membedah buku miliknya di Bandung dan Jakarta.

Ingin rasanya aku ceritakan pengalamanku waktu pergi ke pernikahan Enchi, tapi mungkin di lain tulisan. Tulisan ini akan berfokus pada petualanganku di Toraja saja.

Jadi, Bu Neni memiliki mahasiswa yang juga menjadi supir kami. Namanya Silver. Konon, nama Silver dipilih karena neneknya menyukai coklat Silver Queen. Entah kenapa sepertinya nama itu menjadi berkah baginya karena Silver menjadi sangat terkenal di kampungnya. Dia suka bergaul dengan seluruh penduduk desa. Bahkan, nenek-nenek dan kakek-kakek disana pun kenal dengan dia. Oleh karena itu, ada kemungkinan jika Silver mengikuti pemilu desa, dia bisa menang mudah dengan suara diatas 90%. Kami semua berencana pergi ke rumah Silver yang berada di Toraja setelah menetap sebentar di Enrekang.

Aku masih ingat. Saat itu sudah malam sekali. Sekitar jam dua pagi. Entah sudah ada dimana kami. Bu Neni bilang sedikit lagi kami sampai di Toraja. Jalanan saat itu sepi. Sepi sekali. Tidak ada motor ataupun orang  berjalan. Hanya ada sesekali mobil atau besar yang lewat dari arah berlawanan. Tidak ada penerangan jalan. Gelap. Kanan-kiri gelap. Mengerikan. Hanya lampu sorot mobil yang Silver andalkan untuk bernavigasi. Jika aku melihat ke samping, bayangan-bayangan pohon berjejer. Entah apakah ada makhluk asing yang ada dibaliknya. Kadang-kadang itu yang kutakutkan. Melihat sesuatu yang putih di balik pepohonan. Rasa takut itu diperparah dengan praduga jika ban mobil bocor. Tak ada tukang tambal ban yang terlihat sepanjang jalan. Kami akan terjebak di tengah-tengan hutan! Ya Tuhan. Untung semua itu belum terjadi.

Aku terbangun. Dingin sekali. Jendela-jendela mobil terbuka. Membawa angin dingin ke dalam mobil. Kami sudah tiba di Toraja. Rumah-rumah beratap aneh berjajar di pinggir jalan. Ujung atapnya menjulang ke langit, seperti bagian bawah kapal. Kulihat langit yang sudah membiru. Warnanya mirip seperti laut. Rumah-rumah ini berjejer seperti perahu. Hendak pergi berlayar ke langit. Entah mau kemana. Tidak hanya rumah, banyak juga gereja-gereja. Memang, kata Bu Neni, mayoritas penduduk Toraja beragama Kristen. Tapi, masih kulihat juga beberapa mesjid besar berdiri diantaranya.

Mobil terus melaju. Tidak pernah berhenti kecuali sekali. Saat berada di Toraja Tengah. Disana terlihat patung Yesus walaupun dari kejauhan. Mirip seperti patung yang ada di Brazil. Konon, patung Yesus di Toraja kedua terbesar di dunia. Seperti penerang jalan dari jauh. Disampingku ada juga patung pahlawan. Berada di tengah danau. Membawa obor perjuangan. Simbol perlawanan terhadap penjajah saat itu. Hanya sepuluh menit saja, kami diam berfoto. Kulihat banyak anak-anak berpakaian sekolah hilir mudik. Sekali-kali mencuri-curi pandang kepada kami, tersenyum, atau berbisik pada temannya. Pasti bukan orang sini, pikirnya. Ada juga orang tua, nenek-nenek dan kakek-kakek, menaiki sepedanya. Membawa padi. Entah kemana. Kota Toraja mulai hidup, terbangun dari tidurnya tadi malam. Seperti kami, siap-siap berlayar ke lautan.

IMG_20151121_063434

Patung pahlawan di tengah danau dan Patung Yesus di atas bukit.

Kota Toraja tengah cukup panjang. Butuh sekitar satu jam untuk bisa sampai ke Toraja Utara. Disana kami disambut dengan salib raksasa yang dibangun di bukit. Dibawahnya ada tulisan Toraja Utara. Kami beristirahat sejenak sambil makan mie ayam. Silver bilang agak sulit mendapat makanan halal disini. Wajar. Babi menjadi makanan umum bahkan dipelihara. Disini juga banyak anjing. Ketika ada tukang mie ayam, sudah pasti itu halal. Setidaknya bukan daging babi, toh. 

IMG_20151121_081314

Salib raksasa di atas bukit.

Rumah Silver dari kota Toraja Utara tidak terlalu jauh. Cuman 20 menit. Terletak di Desa. Jajaran sawah terbentang luas. Dan juga hutan. Banyak kerbau-kerbau yang sedang makan rumput. Sesekali juga kami temukan di sungai. Sedang mandi bersama tuannya. Disana lebih banyak kami temukan rumah berwujud aneh itu. Dan lebih dekat terlihat. Atapnya benar-benar megah. Bu Neni menjelaskan bahwa tempat tinggal orang Toraja itu namanya tongkonan. Ada juga satu lagi yang bentuknya sedikit berbeda. Namanya alang. Berfungsi untuk menyimpan padi. Kami sudah sampai. Ibu Silver turun dari tongkonan, menyambut kami.

IMG_20151121_142146

Alang-alang berjejer rapi di depan.

Sulit sekali untuk menjelaskan tongkonan secara rinci. Melihat pertama kali saja saya sudah sadar bahwa banyak sekali unsur-unsur filosofi di dalamnya. Ukiran rumah tongkonan misalnya, unik sekali. Berbeda dengan batik. Banyak juga gambar keris, kerbau, dan babi. Di depan rumah ada patung kerbau yang tanduknya asli. Di rumah yang lain malah lebih banyak tanduk kerbaunya. Terpasang di tiang depan penyangga rumah. Menunjukan status sosial pemiliknya. Juga ada kepala naga yang kalau di film-film biasanya ada di depan perahu. Sepertinya, tongkonan adalah salah satu jenis rumah panggung. Rumahnya ada di lantai dua. Sedangkan bawahnya mirip seperti rumah bugis. Keren sekali.

IMG_20151121_155747

Ukiran di bawah tongkonan. Ada motifnya beserta gambar kerbau dan babi.

Tongkonan lumayan luas. Hanya ada dua ruangan. Satu kamar dan satu ruangan besar. Ada beberapa pintu kayu yang di bisa dibuka keluar. Bentuk atap dari dalam seperti persegi enam. Semuanya kayu. Kecuali perabot dan alat-alat elektronik. Saat malam, tidak dingin ternyata. Saat siang pun, tidak sepanas di Makassar. Suhu di Toraja memang mirip seperti di Bandung, sejuk. Walaupun airnya sedingin es mirip seperti di daerah lembang.

Inilah akhir dari tulisan ini, bukan berarti petualangku berakhir. Semoga tulisan selanjutnya mengenai Toraja bisa segera selesai. Ada juga beberapa foto dan video yang belum sempat saya upload karena tidak ada kuota. Semoga setelah menemukan area hotspot, bisa. Selamat hari Minggu 🙂

 

Advertisements

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s